Jumat, 06 Juni 2014

Pedagodi dan Andragogi


Di dalam Psikologi Pendidikan terdapat pedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani atau biasa dikenal dengan paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya “memimpin atau membimbing”. Darikata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Paedagogi juga merupakan kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan mata pelajaran yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah. Sebagai satu bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai proses pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah dan juga interaksi guru-pelajar.

Andragogi berasal dari kata andros atau aneryang berarti orang dewasa. Kemudian agogosberarti memimpin. Andragogi berarti memimpin orang dewasa , sedangkan pedagogi berasal dari kata paes, yang berarti anak, dan agogos berarti memimpin. Pedagogi berarti memimpin anak – anak.
Dari segi definisi, andragogi adalah seni dan ilmu mengajar orang dewasa (Knowles, 1980). Sebagai ilmu, tidak ubahnya seperti ilmu yang lain, tentunya andragogi dapat dipelajari oleh siapa saja karena ia mengikuti hukum – hukum keilmuan pada umumnya yang bersifat objektif. Sebagai seni atau kiat, andragogi adalah krativitas yang merupakan kecakapan kreatif dan keahlian seseorang yang terkait dengan rasa estetika, terikat dengan kepribadian, karakter atau watak di pendidik. Ada pendidik yang sangat piawai dalam memengaruhi dan memperlakukan anak – anak didiknya yang berdampak pada rasa senang dan simpati kepada si pendidik. Dengan kesabarannya, ketelatenannya dan rasa humornya, seorang pendidik lebih memikat hari anak lebih dari yang lain. Begitu sebaliknya, ada pendidik yang kurang dapat melakukan hal – hal seperti dimaksudkan tadi walaupun mungkin dia sangat menguasai dan pandai secara keilmuan.

Berdasarkan pengalaman, saya mengalami masa-masa pedagogi pada saat saya di bangku TK sampai dengan SMA. Pada saat -saat seperti ini kan saya mendengarkan apa yang diintruksikan oleh guru saya. Pada saat saya di bangku TK, guru saya memberikan tugas untuk menuliskan angka harus secara berurutan mulai dari angka 1 sampai dengan 20 di dalam buku tulis saya. Contoh lainnya itu pada saat di bangku SD kalo tidak salah ketika saya berada di kelas 2, guru memberi tugas untuk menuliskan huruf bersambung di dalam buku halus kasar. Tulisan itu harus di tulis secara rapi tanpa keluar dari garis yang ditentukan. Pada saat SMA sih sebenarnya murid sudah di tuntut untuk bersikap aktif di kelas, tapi pada masa ini kita masih mengalami masa-masa pedagogi dan andragogi belum begitu berpengaruh disini.
Sedangkan pengalaman andragogi saya sangat terasa di bangku perkuliahan ini. Karena pada saat ini kita memang dituntut untuk aktif di dalam kelas. Dosen akan memberikan materi dan jika kita tidak mengerti, kita diharapkan untuk bertanya kepada dosen yang menjelaskan materinya. Oleh karena itu mahasiswa di tuntut untuk lebih aktif ketika berada di dalam kelas.

Sekian sedikit penjelasan mengenai pedagogi dan andragogi, serta bagaimana pengalaman saya dalam mengalami masa-masa pedagogi dan andragogi tersebut. Semoga apa yang saya post kali ini dapat berguna.

Sabtu, 19 April 2014

Kelompok 11
Ketua : Novemina Angelita (131301028) http://13028na.blogspot.com/
Anggota : 
  • Maimunah (131301018) http://13018mm.blogspot.com/
  • Siti Khalida Ilmi (131301062) http://13062ilmidly.blogspot.com/
  • Indri Diani (131301128) http://13128id.blogspot.com/


Evaluasi:
A. Proses Pelaksanaan Observasi
Pada tanggal 27 Maret 2014, Novemina Angelita dengan Desy Awalia, ketua kelompok 13, pergi mencari sekolah untuk tugas observasi kami. Kami berencana untuk mengobervasi sekolah yang sama, namun berbeda tingkatan kelasnya. Mereka  pergi ke SDN 068083 Medan yang berada di Jl. Kemuning. Kebetulan kepala sekolahnya sedang berada di sekolah dan memberikan izin untuk melakukan observasi walaupun pada saat itu mereka tidak membawa surat izin, namun menyuruh mereka memberikan  surat izin secepatnya.
Tanggal 28 Maret 2014 kami melaksanakan observasi tersebut dan berjanji untuk kumpul sekitar jam 7.30, namun pada saat itu saya ketepatan tidak bisa datang tepat waktu karena harus menunggu adik saya pergi sekolah terlebih dahulu. Jadi saya tiba di SDN 068083 sekitar jam 08.15 dan ternyata teman-teman saya sudah melaksanakan observasi terlebih dahulu. Kami melakukan observasi di kelas 1. Kami mencatat dan merekam bagaimana dinamika pembelajaran antara guru dan murid, bagaimana interaksi diantara mereka, dan metode pengajarannya.
Observasi kami lakukan dengan menganalisis teori belajar yang relevan dan teori perkembangan pada middle childhood, karena observasi ini kami lakukan pada murid kelas 1.

Berikut ini adalah pembagian tugas di dalam kelompok kami:
  • Meminta izin kepada pihak sekolah (Novemina Angelita)
  • Merekam interaksi siswa dan guru (Novemina Angelita)
  • Dokumentasi sekolah (Indri Diani dan Maimunah)
  • Mencatat hasil observasi (Indri Diani dan Siti Khalida Ilmi)
  • Membuat laporan observasi ( Maimunah, Siti Khalida Ilmi, dan Novemina Angelita)
  • Menyusun hasil dokumentasi (Indri Diani)
  • Menyusun slide laporan observasi (Novemina Angelita dan Maimunah)
  • Membuat evaluasi hasil observasi (Novemina Angelita, Maimunah, Indri Diani, dan Siti Khalida Ilmi)

Sebelum mengobservasi, kita harus mengetahui bagaimana cara mengajar yang efektif,  karna mengajar adalah hal yang kompleks maka guru harus menguasai beragam perspektif serta strategi, dan mengaplikasikannya dengan fleksibel.
 Ada 2 hal yang harus dimiliki oleh guru :
1.      pengetahuan dan keahlian professional
maksudnya adalah seorang guru harus menguasai materi pelajaran dan keahlian/keterampilan dalam mengajar, guru harus mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dan memotivasi murid-murid yang beragam budaya nya.
2.      komitmen dan motivasi
komitmen dan motivasi ini dibutuhkan oleh guru agar dapat melewati masa-masa sulit dan melelahkan dalam mengajar, guru yg efektif memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya sendiri sehingga tidak akan membiarkan emosi negative melemahkan motivasinya.

Teori perkembangan
-          perkembangan kognitif : Operational Kongkrit (711), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.kami akan menganalisis berdasarkan periode perkembangan, yaitu pada middle childhood (masa sekolah dasar) di mulai dari usia 6 tahun sampai 11 tahun, pada tahap ini anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, dan menghitung. Prestasi menjadi tema utama dari kehidupan anak dan mereka semakin mampu mengendalikan diri, ini dapat terlihat ketika ibu guru memberikan tugas lalu mereka mengerjakan di buku tulis, ketika ibu guru mengatakan “siapa yang bisa menulis kata menyapu di papan tulis ibu kasih nilai 100” lalu mereka semua berteriak dan mengacungkan tangan keatas sambil berlari menuju meja guru, mereka berebut untuk bisa menuliskan nya di papan tulis dan mendapat nilai 100, lalu ibu guru mengintruksikan siapa yang duduk rapi, dia yang boleh menuliskannya kedepan, dan mereka pun berebut untuk duduk yg rapi, ini membuktikan bahwa pada tahap ini prestasi memang menjadi tema utama dari kehidupannya dan mereka mampu mengendalikan diri. Di periode ini mereka berinteraksi dengan dunia social yang lebih luas di luar keluarganya.

-          Periode perkembangan emosional yaitu masa transisi dari early childhood ke middle childhood: saat anak menjalani transisi ke sekolah dasar, mereka akan berinteraksi dan mengembangkan hubungan dengan teman-teman di lingkungan barunya, dan lingkungan nya itu akan membentuk pemahaman tentang diri mereka.

-          Perkembangan psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnyaegosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanakkanaknya.
Pendidikan yang sesuai secara perkembangan, yaitu pendidikan yang didasarkan pada pengetahuan perkembangan khas dari anak-anak dalam rentang usia dan keunikan anak. Pengetahuan ini dapat di jadikan pedoman bagi guru dalam mempersiapkan lingkungan belajar, anak-anak akan berkembang dengan sangat baik jika mereka merasa aman secara psikologis. Perkembangan anak juga akan meningkat ketika dia diberikan kesempatan untuk mempraktikkan keahlian baru dan merasakan tantangan diluar kemampuan mereka saat itu, dalam hal ini diharapkan orang-orang dewasa yang berada disekitarnya memberikan dorongan kepada anak agar mau belajar dan tidak menyerah karna anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan harus didorong untuk membangun pemahaman dunia di sekitarnya.

Teori belajar
Pembelajaran adalahpengaruh permanen atas perilaku, pengetehuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman.
-          Behavior
perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diobservasi, pandangan behavioral ini merupakan pembelajaran asosiatif,  yang dapat kami observasi di dalam kelas 1 SD :
1.      Operant Conditioning
Bentuk pembelajaran dengan konsekuensi-konsekuensi yang memungkin kan perilaku untuk di ulangi atau di hapuskan.
Contoh ; murid menjawab pertanyaan dari guru dengan benar, guru memberikan nilai 100 sehingga murid merasa senang dan termotivasi untuk menjawab dengan benar lagi.

-          Modelling
Bentuk pembelajaran dengan cara mengamati, lalu menirukan perilaku.
Contoh: guru membacakan kalimat yang ada di dalam buku bahasa Indonesia, murid menirukan kalimat tersebut.

b. Evaluasi hasil observasi di kelas

 1Di kelas
 interaksi/ komunikasi antara murid dan guru berjalan dengan baik sehingga proses pembelajaran juga berjalan dengan baik. Cara berbicara guru keras dan jelas untuk dapat menarik perhatian murid-murid.

2. Setting ruangan kelas
Tata letak ruang sama seperti sekolah lain pada umumnya, di dalamnya terdapat alat-alat belajar seperti black-white board, lemari buku, meja dan kursi, alat-alat tulis seperti spidol dan kapur, serta terdapat hiasan dinding seperti peta, gambar pahlawan, foto presiden dan wakilnya

3.Setting lokasi sekolah
Jumlah ruangan ada 6, dipakai untuk kelas pagi dan siang. Halaman sekolahnya kecil karna halaman sekolah nya dibagi 2 dengan sekolah SDN yang ada tepat di depan SDN 068083.

Karakteristik Anak SD
1. Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.

a. Anak SD Senang Bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah.Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).

b.  Anak SD Senang Bergerak.                                                                       
Orang dewasa dapat duduk berjamjam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.

c.  Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.
Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 34 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.

d. Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara
Langsung.
Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsepkonsep lama. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri (membuat contoh-contoh yg sesuai dengan pengalamannya), sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.

Kesimpulan Observasi :
Dari hasil observasi yang kami lakukan di kelas 1 SD 068083 dapat kami simpulkan bahwa metode pembelajaran yang di terapkan sudah sesuai pada perkembangan anak, seperti metode pembelajaran operant conditioning dan modeling.
Demikian evaluasi hasil observasi psikologi pendidikan kelompok 11, kami sangat berterimakasih kepada ibu S.Nasution, SPdi  selaku kepala sekolah dan ibu wali kelas 1 SDN 068083 Medan yang telah mengizinkan kami melakukan observasi dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah psikologi pendidikan. Terimakasih atas perhatiannya, semoga hasil observasi ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang psikologi pendidikan.

sumber tulisan:
jurnal psikologi perkembangan middle childhood (karakteristik siswa SD.pdf) oleh sugiyanto
Buku psikologi pendidikan edisi kedua John W. Santrock

Senin, 24 Maret 2014

Teori Ekologi Bronfrenbrenner

Kelompok 11

Ketua     : Novemina Angelita (131301028)
Anggota  : Maimunah (131301018)
                Siti Khalida Ilmi (131301062)
                Indri Diani (131301128)                  

Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1912-) yang fokus utamanya pada konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Bronfenbrenner adalah psikolog perkembangan Amerika namun lahir di Rusia. 






Lima Sistem Lingkungan. Teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Bronfenbrenner (1995, 2000; Bronfenbrenner & Morris, 1998) menyebut sistem -sistem itu sebagai mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.

  1. Mikrosistem adalah setting di mana individu menghabiskan banyak waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Dalam mikrosistem ini, individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru, teman seusia, dan orang lain. Menurut Bronfenbrenner murid bukan penerima pengalaman secara pasif di dalam setting ini, tetapi murid adalah orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu mengkontruksi setting tersebut. Contohnya ya ketika saya masih kecil saya kebanyakan beraktivitas di luar rumah. Saya termasuk anak yang aktif. Saya suka bermain dengan teman-teman sekolah dan teman-teman di lingkungan rumah saya. Sehingga hal tersebut membuat saya mudah bergaul dengan orang lain. 
  2. Mesosistem adalah kaitan antar-mikrosistem. Hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah, dan antara keluarga dan teman sebaya. Salah satu mesosistem penting adalah hubungan antara sekolah dan keluarga. Contohnya di rumah saya diajarkan untuk bersopan santun  dan menghormati orang yang lebih tua. Jadi di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah saya sudah terbiasa untuk melakukannya.
  3. Eksosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain (di mana murid tidak berperan aktif) memengaruhi pengalaman murid dan guru dalam konteks mereka sendiri. Secara singkat maksudnya itu eksosistem itu melibatkan pengalaman individu yang tidak meiliki peran aktif. Contohnya ayah saya mengemukakan pendapat dan pendapatnya itu tidak bisa saya bantah.
  4. Makrosistem adalah kultur yang lebih luas. Hal ini berkaitan dengan budaya dan status sosioekonomi. Contohnya itu di keluarga saya biasanya setiap ada yang sedang berulang tahun selalu ada acara upah-upah. Hal tersebut menjadi sebuah kebiasan di keluarga saya.
  5. Kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Contohnya pada masa anak-anak saya sering memainkan permainan tradisional seperti petak umpet, sedangkan pada masa kini kebanyakan anak-anak memainkan permainan yang bersifat elektronik seperti game dari Ipad.

Ini adalah pengalaman masa kecil saya yang saya kaitkan dengan teori Bronfenbrenner dan akhirnya saya mengetahui kalau ada hubungan antara konteks sosio dengan perkembangan anak.



Selasa, 11 Maret 2014

Psikologi Pendidikan & Teknologi

Pada zaman sekarang murid-murid berbeda dengan murid-murid di zaman dulu. Karena mereka memakai teknologi untuk dapat mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Revolusi Teknologi

Revolusi teknologi merupakan bagian dari masyarakat informasi dimana kita hidup. orang-orang menggunakan komputer, bolpoin, telepon, dan sebagainnya untuk berkomunikasi. Masyarakat informasi baru mengandalkan beberapa keahlian nonteknologi mendasar, seperti: keterampilan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, berpikir mendalam, berpikir kreatif, dan bersikap positif.

Teknologi menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban. Di setiap sekolah biasanya disediakan fasilitas komputer yang gunanya untuk mempermudah murid-murid mempelajari bagaimana cara menggunakannya agar mereka mudah mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka. Karena kan kalau sekarang kebanyak guru memberikan tugas yang menggunakan komputer.

Ada survei yang dilakukan oleh Office of Technology Assesment (1955) yang mengemukakan bahwa mayoritas guru tidak akrab dengan komputer. Komputer masih sering dipakai untuk kegiatan biasa, bukan untuk pembelajaran konstruktif dan aktif (Newby dkk., 2000). Memang kebayakan guru merasa kesulitan dalam menggunakan komputer. Maka dari itu biasanya dari setiap sekolah guru-guru diberikan workshop bagaimana menggunakan komputer. Jadi mereka merasa tidak kesulitan ketika mengajar di kelas dengan menggunakan komputer. Tetapi sebenarnya banyak juga guru-guru yang tidak terlalu mengetahui bagaimana cara menggunakan komputer dengan baik, dan banyak juga sekolah yang tidak menyediakan workshop.

Internet

Internet adalah inti dari komunikasi melalui komputer. Sistem internet berisi ribuan jaringan yang terhubung di seluruh dunia, dan meyediakan informasi tidak terbatas yang bisa diakses murid. Internet mengandung informasi lebih banyak daripada buku teks.

World Wide Web (Web) adalah sistem pengambilan informasi hypermedia yang mengubungkan berbagai materi Internet; materi ini mencakup teks dan grafis. Web memberi struktur yang dibutuhkan Internet. Website adalah lokasi individu atau organisai di Internet. Website menampilkan informasi yang dimasukkan oleh individu atau organisasi. E-mail adalah singkatan dari electronic mail dan merupakan bagian penting lain dari Internet. Pesan dapat dikirim dan diterima dari individu atau dari banyak individu sekaligus.

Teknologi dan Diversitas Sosiokultural

Teknologi membawa beberapa isu sosial. Misalnya, akankah penggunaan teknologi di sekolah, terutama komputer, akan memperlebar antara murid kaya dan miskin? Problem akses komputer dan pemanfaatannya juga diperparah karena makin banyak komputer di rumah keluarga kelas menengah ke atas. Juga ada problem kesenjangan antarkelompok etnis. Komputer sering dipakai untuk aktivitas yang berbeda di kelompok sosiokultural yang berbeda. 

Ada beberapa rekomendasi untuk mencegah atau mengurangi kesenjangan dalam akses dan penggunaan komputer:
  1. Saring materi teknologi untuk menghilangkan bias gender, kultural, dan etnis.
  2. Gunakan teknologi sebagai alat untuk menyediakan kesempatan pembelajaran yang aktif dan konstruktif untuk semua murid dari semua latar belakang gender, etnis, dan kuktural.
  3. Beri murid informasi tentang pakar dari latar belakang gender dan etnis yang berbeda yang menggunakan teknologi secara efektif di dalam kehidupan dan karir mereka.
  4. Bicaralah dengan orang tua tentang pemberian aktivitas belajar berbasis komputer di rumah. Cari cara bagaimana agen pemerintah dan komunitas dapat membantu pendanaan untuk membeli komputer untuk murid Anda dari keluarga miskin. Ajak orang tua untuk memberi umpan balik positif kepada anak gadis mereka agar menggunakan komputer.

Standar untuk Murid yang "Melek Teknologi"

International Society for Technology in Education (2000) bekerja sama dengan US Department of Education, telah mengembangkan standar untuk murid guna mencapai level grade yang berbeda. Berikut adalah ringkasan dari standar untuk grade pra-taman kanak-kanak sampai grade 2, 3 sampai 5, grade 6 sampai 8, dan grade 9 sampai 12.

Pra-taman Kanak-kanak Sampai Grade 2

  • Gunakan alat input (seperti mouse, keyboard, atau remote control) dan alat output (seperti monitor dan printer) untuk mengoprasikan komputer.
  • Gunakan variasi media dan teknologi untuk mengarahkan aktivitas pembelajaran yang independen.
  • Gunakan sumber daya multimedia yang pas, seperti buku interaktif, software pendidikan, dan ensiklopedia multimedia dasar, untuk mendukung pembelajaran.
  • Kerja sama dengan teman, anggota keluarga, dan orang lain saat menggunakan teknologi.
  • Gunakan sumber daya teknologi (sperti teka teki, program berpikir logis, alat menulis, dan kamera digital) untuk pembelajaran.
  • Tunjukkan perilaku etis dan sosial yang positif saat menggunakan teknologi.

Grade 3 Sampai 5

  • Gunakan keyboard dan alat input lain secara efektif.
  • Diskusikan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan keuntungan dan kerugian penggunaan itu.
  • Gunakan alat teknologi (seperti multimedia, alat presentasi, alat Web, kamera digital, dan scanner) untuk kegiatan menulis, berkominikasi, dan memublikasikan aktivitas individu.
  • Gunakan telekomunikasi secara efektif untuk mengakses informasi di tempat yang jauh, berkomunikasi dengan orang lain, dan mencari informasi yang menarik secara personal.
  • Gunakan telekomunikasi dan sumber daya online (seperti e-mail, diskusi online, dan Web) untuk berpartisipasi dalam proyek pembelajaran bersama.
  • Gunakan sumber daya teknologi (seperti kalkulator, alat pengumpul data video, dan software pendidikan) untuk aktivitas pemecahan masalah dan pembelajaran mandiri.

Grade 6 Sampai 8

  • Aplikasi strategi untuk mengidenttifikasi dan memecahkan problem hardware dan software yang muncul dalam pengunaan sehari-hari.
  • Tunjukkan pengetahuan tentang perubahan dalam teknologi informasi dan efeknya terhadap lapangan kerja dan masyarakat.
  • Gunakan alat spesifik, software, dan simulasi (seperti peralatan lingkungan, kalkulator, dan lingkungan percobaan) untuk pembelajaran dan riset.
  • Desain, kembangkan, publikasikan, dan paparkan produk (seperti halaman web dan rekaman video).
  • Teliti dan evaluasi akurasi, relevansi, dan bias dari sumber informasi elektronik yang berkaitan dengan problem dunia nyata.

Grade 9 Sampai 12

  • Identifikasi kapabilitas dan keterbatasan dari teknologi kontemporer dan nilailah potensi sistem sistem dan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan personal dan pekerjaan.
  • Gunakan sumber daya teknologi untuk mengelola dan mengomunikasikan informasi personal dan profesional (sepertk keuangan, jadwal, alamat, pembelian, dan korespondensi).
  • Gunakan informasi online secara rutin untuk memenuhi kebutuhan riset, publikasi, komunikasi, dan prokduktivitas.
  • Pilih dan aplikasikan alat teknologi untuk riset, analisis infromasi, dan pemecahan problem dalam pembelajaran materi.

Masa Depan: Komputer di Mana-mana

Sekarang kita hidup dimana orang-orang telah memiliki komputer secara pribadi. Beberapa pakar komputer percaya bahwa generasi komputer berikutnya akan berupa ubiquitous computing, yang menekankan pada distribusi komputer ke lingkungam, ketimbang ke personal. Secara singkat ubiquitous computing akan berupa dunia pasca-PC.